Dipublikasikan 2026-10-11 · Tim Kilat Publikasi
Dua istilah ini paling sering muncul saat dosen atau mahasiswa mulai membandingkan jurnal tujuan: impact factor dan kuartil (Q1-Q4). Sayangnya banyak yang menyamakan keduanya begitu saja, padahal cara membacanya berbeda dan salah paham bisa membuat ekspektasi soal jurnal tujuan jadi keliru.
Impact factor adalah angka yang menggambarkan rata-rata jumlah sitasi yang diterima artikel-artikel sebuah jurnal dalam periode tertentu, biasanya dihitung oleh lembaga pengindeks seperti Clarivate (Web of Science) atau Scopus lewat metrik serupa (CiteScore). Semakin tinggi angkanya, secara umum semakin sering artikel di jurnal itu dirujuk oleh peneliti lain.
Kuartil adalah cara mengelompokkan jurnal-jurnal dalam satu bidang ilmu berdasarkan posisi rangkingnya, biasanya dari data Scimago Journal Rank (SJR) atau Journal Citation Reports (JCR). Jurnal-jurnal dalam satu kategori subjek diurutkan dari metrik tertinggi ke terendah, lalu dibagi rata menjadi empat kelompok.
Berisi 25% jurnal dengan metrik tertinggi di kategori subjeknya. Umumnya paling kompetitif dan paling diperhitungkan untuk keperluan akademik seperti kenaikan pangkat atau syarat kelulusan S3.
Berada di rentang 25%-50%, masih tergolong jurnal dengan reputasi baik di bidangnya meski tidak setinggi Q1.
Rentang 50%-75%. Banyak jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional yang baru terindeks berada di sini.
Rentang 75%-100%. Bukan berarti jurnal ini tidak kredibel — banyak jurnal Q4 tetap jurnal resmi dan terindeks sah, hanya posisinya relatif di bawah dibanding jurnal lain di kategori yang sama.
Kesalahan paling umum adalah menganggap "jurnal Scopus" otomatis berarti Q1, atau menganggap jurnal tanpa impact factor pasti kualitasnya buruk. Padahal jurnal yang baru terindeks biasanya belum punya cukup data sitasi untuk dihitung impact factor atau kuartilnya — bukan berarti jurnal tersebut tidak layak.
Perlu diingat juga, impact factor dan kuartil berbeda dengan status akreditasi SINTA. Jurnal nasional di Indonesia punya sistem tingkatannya sendiri — kalau belum familiar, baca dulu perbedaan jurnal SINTA 1 sampai 6 dan perbedaan jurnal terindeks SINTA, Garuda, dan Scopus.
Selalu cek data terbaru langsung dari sumbernya, karena posisi kuartil sebuah jurnal bisa berubah setiap tahun seiring evaluasi ulang.
Impact factor mengukur rata-rata sitasi sebuah jurnal, sementara kuartil menunjukkan posisi relatif jurnal itu dibanding jurnal lain di bidang yang sama. Keduanya berguna sebagai bahan pertimbangan, tapi bukan satu-satunya ukuran kelayakan sebuah jurnal — kecocokan bidang ilmu dan kredibilitas penerbit tetap harus dicek lebih dulu.
Masih bingung menentukan jurnal tujuan yang sesuai bidang dan target kuartilmu? Konsultasi gratis bersama tim Kilat Publikasi.